Beringin tua
raksasa tampak kokoh berdiri ditengah halaman sekolah. Daun-daun yang
menggerombol rindang tertopong oleh ranting-ranting rapuh yang ditumbuhi oleh
akar gantung. Memang tampak ngeri jika berada dibawahnya, apalagi setelah
terdengar mitos bahwa ada yang menghuni pohon itu. Mitos itu jelas dipercaya
dan telah meracuni pikiran seluruh penghuni sekolah. Terbukti tak aada seorang
pun yang bersantai dan menikmati kerindangannya. Hanya Pak Bon yang setiap hari
mendatanginya, itupun hanya untuk membersihkan daun yang berguguran. Namun
seakan aku tak ingin percaya dengan mitos yang belum terbukti kebenarannya itu.
Rasa penasaranku semakin besar dan menggebu. Langkah de±mi langkah kuyakinkan
tak ada apa-apa disana, hanya sebuah pohon tua yang kesepian, yang berharap
dunia dapat merasakan manfaat kerindangannya. Langkah-langkahku semakin
mempersempit jarak antara aku dan pohon itu. Semakin dekat mulai kurasakan
kesejukannya, semakin dekat semakin sejuk hingga aku berada tepat di bawah
ranting-rantingnya. Kupandangi setiap bagian pohon itu.
Mulai dari bawah terlihat akar-akar besar, semakin keatas batang tubuhnya yang besar kira-kira berdiameter ± 150 cm, lalu terlihat ranting-rantngnya yang berwarna coklat kehitam-hitaman dengan daun-daunnya yang rindang dan akar-akar gantungnya yang telah dipangkas. Kucoba cermati lagi, sekarang terlihat beberapa burung pipit dan beberapa burung dara dan jneis burung lainnya yang sedang bertengger diatas rating-rantingnya.
Mulai dari bawah terlihat akar-akar besar, semakin keatas batang tubuhnya yang besar kira-kira berdiameter ± 150 cm, lalu terlihat ranting-rantngnya yang berwarna coklat kehitam-hitaman dengan daun-daunnya yang rindang dan akar-akar gantungnya yang telah dipangkas. Kucoba cermati lagi, sekarang terlihat beberapa burung pipit dan beberapa burung dara dan jneis burung lainnya yang sedang bertengger diatas rating-rantingnya.
Aku duduk dan bersantai
ditempat duduk yang sengaja dibangun mengelilingi pohon itu. Dapat kurasakan
rindangnya meneduhkan hati. Daunnya menciptakan semilir angin pembawa damai,
semua masalahku seakan terbang bersama angin yang membelai helaian rambutku.
Ditemani kicauan burung mnan merdu, aku semakin terbawa oleh arus relaksasi
yang teramat sangat. Sangking kelewat santainya aku sampai lupa waktu, bel
masuk sudah berbunyi sejak 15 menit lalu.
Sejak itu aku
seperti kecanduan dengan kesejukkan di bawah pohon beringin itu. Keesokan
harinya saat jam istirahat aku datang lagi, kali ini kumanfaakan untuk belajar
atau sekedar membaca buku pelajaran. Tiba-tiba samar terdengar suara langkah
kaki menginjak dedaunan kering. Hatiku muali resah, bulu kudukku sentak
berdiri. “ hee!! Siapa kamu!!!! ” dengan nada kasar. Serentak aku berdiri dan
kubalikkan badanku. Nada jantungku tak beraturan, “ Dak, Dik, Dukk (?-_-) ”.
Mulai kulihat dari bawah kakinya menapak dan ku angka kepalaku mulai kulihat
wajahnya.
“ HUHH. . .”,
aku menghela nafas,
“ ternyata
hanya seorang cowok “, kataku berbisik dalam hati, tapi aneh tatapannya tajam
dan dingin bibirnya juga kering dan sedikit pucat, merinding aku melihatnya.
“ kamu ngapain
disini? “ katanya kembali.
“ kamu sendiri
ngapain kesini? “ aku balik bertanya.
“ aku kann
setiap hari juga disini ” jawabnya,
sekarang nadanya berangsur lembut.
“ disini???
di..dii manaa? kok aku nggak pernah liat kamuu?? “ tanyaku penasaran.
“ dibelakang
kamu “, jawabnya kembali.
“ dibelakangku
?? tapi dibelakangkan pohon ? “, parnoo aku jadinya, jangann...
“ ha ha
haaa....kamu ketakutan gitu, kenapa? Maksud aku kan di balik pohon yang ada dibelakang
kamu (!-_-) “, jelasnya sambil menertawakan keparnoanku.
“ Oh ya,
ngomong-ngomong, emangnya kamu nggak takut apa, disini ? sendiri?” lanjutnya.
“ awalnya sih
takut !! tapi penasaran juga, dan ternyata ketakutanku itu hanya ada di hati
dan prasangka kita aja. Dan setelah itu aku buktikan sendiri ternyata nggak
seperti yang aku kira, disini sangat sejuk, rindang, dan enak untuk ngeRefresh
pikiran ditengah pelajaran yang sumpek.”
“ kamu bener
banget, disini tempat terbaik untuk
menenangkan diri. Oh yaa, aku Reza. Nama kamu siapaa? “
“ aku Narin, Oh
ya kamu biasanya ngapain aja disini ?”
“ nyantaii
aja.. “
“ kamu, nggak
kesepian apa ? biasanya kann kebanyakan cowok suka ngumpul-ngumpul bareng temen
“
“ nggak juga,
disini kan udah ada burung-burung yang nangkring di atas yang nemenin aku
disini. apalagi sekarang kann udah ada kamu, jadi nggak kesepian lagi “
“ gitu ? kita
baru kenal Lhoo!! Kamu langsung akrab aja sama aku ? “
“ nggak tau
sihh, sebenarnya aku juga nggak pernah seakarap ini sama orang, apalagi yang
baru aku kenal, emangnya kenapa ? “
“ nggak apa-apa
sih, Oh ya, kamu kelas apa ? kalo aku kelas XI IPA I “
“ aku kelas XI
Bahasa I “
“ kok aku nggak
pernah liat kamu sihh ? “
“ ya, akrna aku
tiap istirahat ada disini, lagian aku nggak begitu akrab sama temen-temen di
kelas “
“ kenapa...?
“ karena aku
nggakk......, ahhh udah lahh ! udahh bel tuh ! ? “
“ oh ya, aku
masuk kelas ya ! “ sambil berjalan yang ada dibenakku, kenapa cowok itu aneh
banget, pasti ada sesuatu. Tapi udahlahh bukah urusanku juga.
***
Setelah
pertemuan itu setiap hari saat jam istirahat kami pasti bertemu dibawah pohon
raksasa itu. Ternyata dia adalah teman bicara yang sangat menyenangkan. Bahkan
dia sering bantu mengajariku buat puisi. ya...secara kau paling nggak bisa kalo
disuruh puitis-puitis kaya gitu.
Tepatnya Kamis 16 April 2010 masih seperti biasanya. Setelah terdengar bel istirahat
aku bergegas menuju pohon itu. Tapi ada yang aneh dengan Reza hari ini,
wajahnya terlihat pucat dan agak pendiam dari biasanya.
“ za kamu sakit
?” tanyaku.
“ nggak, aku
nggak apa-apa ! “, elaknya.
“ beneran, tapi
kamu pucat kayak gitu? “
“ mungkin aku
cuma kecapean aja “
“ Oh ya za, kamu tau nggak arti
majas ini? ”
“ emm...mana, coba aku liat ! ”
“ astaga za, kamu mimisan ? ”
“ apa....astaga !! ” Reza bergegas
lari menuju kamar mandi. Aku pun mulai panik dan mengejarnya.
“ Za , kamu nggak napa-napa kann ?
”, sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi. Khawatir bercampur malu rasanya
ada didepan kamar mandi cowok. Tapi rasa khawatir sudah tak bisa ku bendung
lagi.
“ Za ... ? “ ku coba memanggilnya
lagi.
“ aku udah nggak apa-apa kog rin. Udah masuk
nih, kamu duluan aja ke kelas ! ”
“ ttapii za.. ”
“ udah kamu pergi aja duluan ”
“ tapi kan za...kamu... ? ”
“ aku bilang !! kamu pergi sekarang
!! dengan nada membentak ”
“ reza... ?? ”
“ rin, please kamu pergi...aku nggak
mau kamu liat aku kaya gini ”, sekarang dengan nada memohon.
“ baiklah aku pergi sekarang, tapi
kalo kamu emang sakit jangan maksasain diri. Ke UKS aja. Aku pergi yaa...”,
akupun pergi meninggalkan Reza.
Seharian sejak pulang sekolah aku
menunggu kabar dari Reza, tapi tak satupun SMS atau sekedar Missed call dari
Reza di Hpku. Bahkan saat aku SMS, dia tak membalasnya. Aku coba SMS lagi
dan lagi. Hingga puluhan kali ku kirim SMS dan telepon tetap saja tak ada
jawaban.
“ apa sakitnya terlalu parah ?”
bisikku di hati. Ingin rasanya aku menjenguk kerumahnya. Tapi ayah pasti nggak
mengijinkan, karena sudah malam. Selain itu berbagai macam alasan ayah
lontarkan dari bibirnya untuk mencegahku pergi malam. Aku jadi teringat saat
aku pulang terlambat, karena ada acara ekskul. Saat aku pulang ± jam 6.45 sore
atau 18.45, ayah begitu marah dan mengintrogasiku saat itu pula.
“ rin dari mana aja kamu !! kenapa
jam segini baru pulang ?? ! kenapa kamu ngga pamit kalau mau pulang jam segini
!” kata ayah dengan sangata marah.
“ sebenarnya yah, aku tadi ada acara
ekskul di sekolah. Kenapa aku nggak pamit, karena acaranya dadakan ayahh ”,
jelasku. Tapi kuakui walaupun ayahku sangat galak dan pemarah. Itu sebenarnya
karena dia sangat sayang dengan anak-anaknya. Walaupun ia marah-marah, tapi
setelah itu pasti ia minta maaf dan memberiku penjelasan.
“ huhhh...Rin maafin ayah yaa ??
Ayah nggak bermaksud memarahi kamu. Ayah hanya khawatir sama kamu. Kamu maukan
maafin ayah ?? ”
“ ya Rin, maafin ayah kamu, dia tuhh
terlalu sayang sama kamu ? ” bujuk ibu.
“ ya dehh Narin maafin, tapi jangan
terlalu khawatir yaa. Narin janji, bakal ijin dulu kalo mau pergi..” aku jadi
pengen tertawa sendiri kalo inget kejadian itu. Abis lucu sihh, ayah kalo
sedang khawatir pasti dan selau salah tingkah. “heheh..he”, ahh udahlahh
percuma juga kalo aku mohon sama ayah, pasti nggak dibolehin. Tidur aja deh
kalo gitu.
Keesokan harinya saat istirahat aku
bergegas ketempat aku dan Reza sering bertemu. Semoga Reza sehat-sehat aja. Aku
berjalan mengitari beringin itu, tapi nggak ada siapapun disini. “ tapi tunggu
! kertas apa ini ?? “ kataku
dalam hati. Heran dan aneh rasanya karena kan jarang yang kesini. Hanya ada kemungkinan.
Aku, Pak Karno ( Tukang Bersih-bersih ) atau Reza. Aku tak mungkin. Masa pak
karno bawa kertas yang warna pink? Kecuali kalau Pak Karno sedang kasmaran,
secara dia kan Perjaka tua, hehehee...atu Reza, tapi disini nggak ada Reza,
atau mungkin kemarin ketinggalan. “ ah daripada penasaran, dibuka aja “, kataku
dalam hati. “ apa ini?? Puisi?? ”, aku yakin tulisan tangan ini pasti Reza, dia
masih bisa buat puisi pasti dia baik-baik saja. Tapi kalo Reza nggak masuk,
siapa yang ngirim ini kesini ? atau Reza masuk, tapi lagi sibuk ! mungkin bisa
diajak. Semoga itu yang terjadi.
Tiba-tiba “ Rin, kok kamu ada disini
sihh ? ”. “ Dewi, bikin kaget aja sihh ”, kataku.
“ emang kamu nggak takut Rin ??”
sambil clingak-clinguk dan wajahnya yang pucat ketakutan.
“ takut ? ngapain takut ? oh ya ada
apa sihh?”
“ tuhh dicari Bu Anis ?”
“ astaga aku hampir aja lupa,
titipan Bu Anis”.
“ yahhh...kumat dehh penyakit
lamanya !”
“ yaa-yaaa aku tau, ya udah yuk cari
Bu Anis ”
“ oh ya Rin...apa itu?? Ditangan
kamu?? Pink..pink gitu, kaya’ surat cinta aja, cie cei narin ” tanya Dewi sambil jalan.
“ bukan kokk ! Cuma puisi !!”
“dari siapa, so sweat banget sihh
??” “
“ ya dari siapa lagi kalo bukan Reza
!, etsss jangan berfikir macem-macem kita cuma sahabatan”
“ iyaa-iyaa sahabat, sahabat selalu
lengket”
“ apaan sihh, seneng banget deh kalo
nggoda orang”
“ hahaha..haha” tertawanya saja
terdengar jahil.
“ Bu Anis ! ini titipan ibu. Oh ya
buu, salam dari ibu saya !”
“ sampaikan juga salam ibu untuk
ibumu. Terima kasih”
“ sama-sama bu” “
Seminggu berlalu begitu cepat, Reza
tak pernah menghubungiku, dia hanya memberikan sajak puisi yang sulit
kumengerti maksudnya.
“ Reza......................! “
seruku sambil berlari menghampirinya.” za akhirnya...?!!! ?
“ Narin... !” Reza
“ gimana keadaan mu ?” tanyaku.
“ aku baik, maaf yaa.. !”
“ kenapa minta maaf ??”
“ karena selama seminggu ini....”
“ ohh.. nggak pa-pa kok, aku tau
kalo kamu pasti sibuk...”
“ iyaa aku
sibuk, makasih yaa kamu udah ngertiin aku,”
“ it’s okeyy”
“ oh ya aku kesini soalnya aku mau
bilang sesuatu sama kamu....!!”
“ bilang
ajaa..!!”
“ mulai besok
kaya’nya kita nggak bisa ketemuan lagi...soalnya aku banyak banget tugas yang
numpuk dan mesti aku selesaiin, nggak apa-apa kann kalo kita jarang ketemu.”
“ ya nggak apa-apa lahh, emang kamu
kira aku ini siapa?? Nggak usah sungkan gitu lahh”
“ tapi tenang aja seperti biasa kalo
aku nggak kesini ada sesuatu yang akan nemenin kamu.”
“ iya aku tau ini kann ” sambil ku
tunjukkan salah satu puisi dari Reza.
“ tapi kaya’nya kamu udah terbiasa
tanpa aku..”
“ maksud kamuuuu...? ”
“ nggak . . aku seneng aja”
“ seneng! Kamu seneng, nggak bisa
ketemu aku lagi!”
“ gimana yaaa! Abiss kadang-kadang
kalo terlanjur kumat, kamu cerewet banget sihhh!”
“ za....kamu kok gitu sihh !! jahat
tau..”
“ hahah...haahaa ” ketawa dengan
riangnya.
“ kok kamu ketawa sihh?”
“ abiss, liat ekspresi kamu lucu
bangett,....hahaha..”
“ hahaaa...hahah ketawa aja
teruss...!!!”
“
haa.haa.haa...iyaa..iyaa maaf!”
“ tapi beneran aku seneng dehh, bisa
liat kmau ketawa lepas gini”
“ kalo gitu aku akan selalu bahagia
untuk kamuu!!”
“ tapi za beneran dehh, aku nggak
taau maksud puisi kamu. Kamu bisa nggak buatin aku kamus majas !”
“ kamu kira puisi itu bahasa
inggris ! Noonn puisi itu nggak perlu kamus, karna kamusnya udah ada dalam diri
kita!”
“maksud kamuu ?”
“ kamu cuma perlu merasakan dengan
hati kamu!! Hayati puisi itu, kamu akan tau maksud aku”
“ ha..”
“ ya pokoknya gitu lahh. Aku harus
masuk kelas nihh”
“ Za.. kamu jaga kesehatan kamu yaa,
jangan maksain diri sama pelajaran.”
“ iya dehh ibu dokter!”
“ mulai kan...! aku serius nihh! “
“ haha.. aku juga serius, itu
cita-cita kamu kan? Lagian nasehat kamu dah kaya’ dokter tau gak sih!! Haha.ha”
“ udah ah, ngobrol muluu! Katanya
masih banyak tugas! Pergi sanaa! ”
“ kamu ngusir aku ! nanti nyesel
loo! Jangan nyari aku lagi yaa ”. “ nggak..nggak akann ! :P ”
“ ya dehh..bye”
“ ati-ati ”
“ bye Rin! ”
“ iya ”
“ Rin..! ”
“ apa lagi? ”
“ emm bye Rin!”
“” ihh, udah ahh..bye juga!”
“ Rin...”
“ heemm.”
“ .. ” hanya tersenyum sumbang.
Sejak hari itu aku dan Reza tidak
pernah bertemu lagi. Yang ada hanya puisi-puisi dari Reza dan aku yang berusaha
memahaminya. Huhh..lebih mudah soal matematika daripada memahami isi hati lewat
puisi. “ aku jadi penasaran ngapain aja sih Reza, katanya sibuk, tapi masih
sempat buat puisi ” kataku dalam hati. Aku pun menunggu Reza di depan kelasnya.
1..2..3 anak keluar, hingga kelas kosong. Tapi kemana Reza?. Akupun memasuki
kelas. Tak ada seorang pun di kelas. Terlihat sekilas ada nama Reza, kuperhatikan
dengan benar-benar kali ini. “ Reza Surya Saputra ” itu nama Reza tertulis di
papan jurnal kelas keterangan sakit. “ ha..sakit, tapi sakit apa? Kenapa dia
nggak ngabarin aku? ”. “ ah sudahlahh lebih baik aku jenguk dia di rumahnya ”.
Setelah sampai di depan
rumahnya tanpa ragu ku ketuk pintu rumahnya. Berkali-kali ku ketuk tak ada yang
membukakan pintu. Dan saat ku ucapkan salam, tak ada yang jawab. Bahkan
sepertinya rumah ini kosong. Tetangga Reza yang mendengar teriakan salamku
keluar dari rumahnya.
“ nyari siapa dek? ” kata perempuan
itu.
“ mbak tahu pemilik rumah ini? ”
“ oh, keluarga Pak Rahmad ? ”
“ iya ”
“ Pak Rahmad dan istrinya sedang di
rumah sakit menjaga mas Reza ”
“ lho memangnya Reza sakit apa mbak?
”
“ kabarnya mas Reza itu sakit
Leu...Leu..apa ya? ”
“ Leukimia... maksud mbak!! ”
“ nah ! iya Leukimia ! ”
“ kalo boleh tau di rumah sakit mana
mbak? ”
“ di Rumah Sakit Nusantara kamar
VIP. Sebentar ya mbak saya lagi masak! ” sambil berbalik meninggalkanku.
***
Saat di rumah sakit kulihat Reza
terkapar di ranjang. Tak seperti Reza yang biasanya, Reza yang periang dan
selalu menghiburku. Reza yang sekarang tampak rapuh, wajahnya pucat, walau
begitu tersimpan ketabahan yang luar biasa di dalam hatinya.
“ Narin..apa itu kamu? ”
“ ya..” sambil membuka pintu.
“ kenapa kamu
nyari aku, aku kan udah ngelarang kamu nyari aku! ”
“ tapi aku khawatir sama kamu? ”
“ kamu nggak percaya sama aku! Aku
udah bilangkan selama aku ngirim puisi itu brarti aku nggak apa-apa atau kamu
nggak nerima puisi itu? ”
“ tapi za...”
“ sudahlah itu nggak penting lagi,
sekarang kamu tahukan ini sebabnya aku nggak mau terlalu akrab sama
temen-temen. Aku terlalu sedih nantinya kalau aku...!”
“ kamu nggak akan mati kan...? ”
“ matt..matii? maksud aku, kalau aku
lagi terkapar kaya’ gini ”
“ dalam keadaan kaya’ gini kamu
masih aja bisa bercanda ya? ”
“ aku gk lagi bercanda! ”
“ oke, aku ngerti maksud kamu.
Setidaknya berbagi lah rasa sakitmu itu, jangan dirasakan sendiri. Mungkin itu
bisa mengurangi rasa sakitmu. Setidaknya ada semangat dari teman-teman ."
" kamu tidak akan mengerti ,
mungkin saranmu itu baik. Tapi aku lebih nyaman seperti ini. Kamu akan mengerti
setelah memahami dan mengerti isi dari puisi-puisiku. "
" kalau memang itu yang
terbaik, aku akan coba lakuin itu. mengeti setiap sajak puisimu. Tapi kamu
harus mengerti satu hal, bahwa ada seseorang yang akan menunggumu, mendoakanmu,
dan mengerti kamu. Semangat za !! "
~ don't cry
narin, semangat semangat. doamu pasti sangat berarti untuk Reza. harapku,
semoga dia cepat sembuh. Tuhan, hanya doa yang bisa kupinta dari-Mu.~
Aku pun dengan segudang rasa
khawatir yang menyelimuti hatiku. Ku coba untuk selalu berfikir positif dan
terus melangkah kakiku. Selangkah demi selangkah aku menjauh dari kamarnya.
***
Hari demi hari ku jalani, tanpa Reza
disampingku. Tapi entah kenapa tetap terasa Reza hadir di sampingku. Karena
kata-kata puitisnya, tersampaikan ke hatiku lewat goresan-goresan tinta biru
melekat pada selembar kertas merah muda. Kadang aku tersenyum tersipu layaknya
seorang gadis yang kasmaran karna sajaknya. Tapi terkadang aku menangis terharu
karna kata-katanya yang menyentuh. Sajak yang seakan dapat menghipnotis
seapapun yang membacanya, laruut bahkan tenggelam dalam suasana yang
dibawahnya. Aku sadar sehebat dan seindah apapun suasana yang dibawa oleh
puisinya, tak akan dapat menggantikan Reza. Tapi aku selalu berharap Reza akan
kembali bersamaku, bersama kami semua balajar dan tertawa bersama.
Ayam telah menyanyikan lagu
wajibnya. Aku terbangun dari tidur lelapku. Sedikit rasa aneh kurasakan, panas
dan dingin bercampur di sekujur tubuhku. Setiap nafasku terasa panas telapak
kakiku terasa dingin membeku. Begitu pula dengan kepalaku, entah kenapa
perasaan gelisah yang ada dipikirankuu saat ini.
" Narin
bangun.. " bunda udah mulai teriak
" Ia ini
sudah bangun bun . " brr brr.. dinginnyaa. padahal udah mandi pake air
anget lho.
" bun
kenapa ini aku, kog gk enak banget rasanya dari tadi. coba pinjem termometernya
bun. "
" ya
ampun, demam ya kamu nak. ini kog demamnya lebih dari 39 derajat. .."
" aku
harus masuk bun, ada ulangan nanti di sekolah."
" ya udah,
minum obat penurun demam dulu ini. mau gimana lagi, bunda antar ya. "
" iya bun.
" kalau gk emergency, pasti bunda gk mau ngantar. biasanya , pasti udah
berangkat kerja duluan. emang sihh , ke sekolahku sama ke kantor bunda gk
searah. itu alasannya dia gk mau antar. tapi kali ini dia gk tega liat aku.
tapi emang, rasanya lemes banget. tapi harus semangat, ada my favorite exam.
yeahh , because it's mathematics. my lovely math .. muach muachhh ^^.
***
finally , selesai juga. huhhhh sukses lah buat hari ini. ***
brukkk .. "narin
bangun, narin kenapa kamu.. narin bangunn.. narin.. cepat bawa dia ke UKS
"
" dimana
aku ?? " tanyaku
" kamu di
UKS ." si petugas UKS. si pak kumis
" kenapa
pak saya?? kog tiba-tiba disini ?? "
" kamu
udah 1 jam pingsan, badan kamu deman ya nak. bapak antar ke rumah sakit ya.
demamnya tinggi lho. "
" saya mau
pulang aja pak. . "
" ya sudah
kalau begitu. "
tidak lama
kemudian, bunda datang. Eh pak kumis
cerita kalau aku habis pingsan sejam. langsung ke rumah sakit deh. huhh capekk
plus puyeng rasanya.
bla bla blaa
dokter bilang, aku kena tipes ternyata. syukur, masih bisa diobati.
baru sadar
kalau rumah sakit yang aku datangi sama bunda, sama dengan rumah sakitnya Reza. ~stupid,
baru sadar akuu~
ke Reza
ah...
tik tok tik
tok, lima langkah lagi aku sampai nih. Satu ... dua..... tiga... empat...
lima... lahhh
lho laahh kog
kosong ya. Kog udah rapi tempat tidurnya.
-To be continue-
cerita ini bersambung...
BalasHapuskok bersambungnya ditengah2? gak sampe titik n ada kata2 "Bersambung"-nya gitu sis? tapi ini bagus kok. dipoles aja sis, trz dlanjutin ya. hehe... kayakx reza tu hantu deh :p
BalasHapuskunjungan balik ya sis.
thanks bgt ya sist bwt comment nya..iya ceritanya nanti ak sambung lg..
Hapusdan jg ak oles lebih halus lg ceritanya..
reza nya bkn hantu :D..
Okeh sist thanks skali lg..