ANDAI AKU ODHA
JANGAN DISKRIMINASI AKU
Setiap malam aku bermimpi, mimpi dimana aku berada dalam ruangan yang gelap tanpa ada seseorang didalamnya. Suatu hal yang tidak pernah aku bayangkan, tapi pada saat ini terjadi. Setiap orang pasti menginginkan hidup sesuai dengan rencana yang mereka inginkan. Tapi,
ODHA telah mengambil semua yang ada dalam diriku
ODHA merubah hidupku
ODHA telah menjauhkan aku dari segala hal
ODHA menyebabkan semua masalah ini terjadi
ODHA yang berujung pada kejerahan dan keputusasaan
ODHA, “mengapa harus aku??”
Sungguh, aku tidak ingin ada dalam mimpi buruk ini. Berada dalam permainan besar yang berakhir KESEDIHAN. Aku bahkan belum memulai masa depanku, tapi sudah seperti akhir dari masa depanku.
Namaku Alif, aku adalah si ODHA yang hidup seorang diri. Meski aku tidak tau siapa ayah ibu kandungku. Aku yakin suatu saat pasti aku akan bertemu mereka. Marah pasti,
Kenapa mereka membuang aku?
Apa yang mereka pikirkan saat itu?
Apa mereka tidak merindukan aku?
Apakah mereka masih ada?
Apa kalian merasakan hal yang sama?
Banyak sekali yang ingin aku tanyakan pada kalian...
Sudah 4 tahun ini, aku baru tau kalau selama ini aku mengidap Penyakit AIDS. Penyakit ini sudah aku bawa sejak kecil. Bahkan aku dipanggil si ODHA.
Kenapa harus aku??
Aku tau dampak akhir dari penyakit ini adalah kematian. Obat untuk menyembuhkan penyakit ini saja belum ada, bagaimana aku bisa sembuh??
Kalau penyakit ini aku bawa sejak kecil, berarti penyakit ini berasal dari orang tuaku. Aku semakin benci dengan kalian.
Jangankan seorang teman, melirik ke arahku pun mereka enggan. Hatiku berkecamuk, ingin rasanya aku menjerit dan berkata “aku mohon jangan menjauh dariku, lihatlah aku seperti kalian melihat seorang manusia biasa, karena aku sama seperti kalian, jantungku berdetak, aku memiliki hati dan perasaan, hanya kekebalan tubuhku yang lemah, aku tak akan menyakiti kalian. Aku juga tidak akan membunuh kalian, karena aku bukan seorang pembunuh, aku hanya ODHA!” hanya jeritan di ujung bibir. Bibirku terasa kaku, tubuhku
bergetar tanganku basah berkeringat saat aku melihat mereka memandang sambil bergumam tentangku.
Hingga akhirnya ada seseorang yang datang ke dalam hidupku dan mengulurkan tangannya untukku. Raffi namanya, dia murid pindahan dari Lampung. Saat pertama dia masuk sekolah dia langsung duduk di sampingku. Aku kaget dan sontak. “Kenapa? kamu nggak suka aku duduk disini?” Raffi. “Bukan-bukan begitu...tapi..” aku tak dapat berkata apapun. “tapi apa? Sudahlah duduk saja dulu!” Raffi.
“Tapi aku!!”
“Kamu ODHA? Aku sudah tau!”
“Kalau kamu sudah tau, kenapa kamu tetap...”
“Kamu bukan pengidap Penyakit Kusta kan?? AIDS tak akan menular lewat sentuhan dan genggaman tangan” sambil mengulurkan tangannya, tapi aku enggan untuk menyambutnya.
“Jangan bilang kamu nggak tau hal itu??”
“Aku tau, tapi tak ada seorangpun yang percaya padaku!”
“Sudahlah, jangan hiraukan orang lain. Aku Raffi, kamu?”
“Aku Alif..”
“Satu hal yang harus kamu ketahui Alif, kakakku juga ODHA sama sepertimu, dia juga dijauhi semua orang, bahkan dia frustasi berat dan akhirnya dia bunuh diri. Jangan sampai hal itu terjadi padamu Alif.”
Apa yang dibicarakan Raffi sempat ada dipikiranku. Benar “BUNUH DIRI”. Yang aku pikirkan saat itu adalah semua orang sudah tidak ada yang peduli, aku tidak tau siapa orang tuaku. Satu-satunya jalan adalah bunuh diri. Tapi rencana itu urung aku lakukan.
Pada saat itu hujan deras, aku yang sendiri, hanya ditemani hembusan angin dan lamunan yang tidak berarti. Sungguh aku bingung. Aku lihat Kanan kiri tidak ada siapa-siapa. Semua orang menjauhiku. Aku keluar dan berlari...berlariiiii dan berlariiii. Kemana aku pergi? Aku sendiri tidak tau mau kemana, hingga akhirnya aku menemukan tempat yang tepat. Yaitu Sungai yang mengalir deras dan bebatuan yang sangat besar. Aku pejamkan mata dan berteriak “AKU INGIN MATI TUHAAANNNN”.
Bersyukur ada yang menemukan aku saat itu. Hingga aku selamat dari maut. Aku malu pada mu TUHAN, sulit buatku untuk memperbaiki kesalahanku pada-Mu. Selama ini aku hanya memikirkan diriku sendiri, memikirkan bagaimana mengakhiri hidup ini, tanpa berpikir Engkau ada disampingku. Aku punya Engkau TUHAN, aku percaya Engkau pasti akan membantu. Aku punya masa depan, tidak peduli orang mau bilang apa tentang aku. Masa depan ini harus selalu aku genggam. Yang jelas aku adalah si ODHA yang harus berpikir positif untuk meraih masa depan. Berdoa dan berusaha adalah kuncinya..
-END-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar