Kamis, 12 Januari 2012

Puisi Cinta Dari Surga


Beringin tua raksasa tampak kokoh berdiri ditengah halaman sekolah. Daun-daun yang menggerombol rindang tertopong oleh ranting-ranting rapuh yang ditumbuhi oleh akar gantung. Memang tampak ngeri jika berada dibawahnya, apalagi setelah terdengar mitos bahwa ada yang menghuni pohon itu. Mitos itu jelas dipercaya dan telah meracuni pikiran seluruh penghuni sekolah. Terbukti tak aada seorang pun yang bersantai dan menikmati kerindangannya. Hanya Pak Bon yang setiap hari mendatanginya, itupun hanya untuk membersihkan daun yang berguguran. Namun seakan aku tak ingin percaya dengan mitos yang belum terbukti kebenarannya itu. Rasa penasaranku semakin besar dan menggebu. Langkah de±mi langkah kuyakinkan tak ada apa-apa disana, hanya sebuah pohon tua yang kesepian, yang berharap dunia dapat merasakan manfaat kerindangannya. Langkah-langkahku semakin mempersempit jarak antara aku dan pohon itu. Semakin dekat mulai kurasakan kesejukannya, semakin dekat semakin sejuk hingga aku berada tepat di bawah ranting-rantingnya. Kupandangi setiap bagian pohon itu.
Mulai dari bawah terlihat akar-akar besar, semakin keatas batang tubuhnya yang besar kira-kira berdiameter ± 150 cm, lalu terlihat ranting-rantngnya yang berwarna coklat kehitam-hitaman dengan daun-daunnya yang rindang dan akar-akar gantungnya yang telah dipangkas. Kucoba cermati lagi, sekarang terlihat beberapa burung pipit dan beberapa burung dara dan jneis burung lainnya yang sedang bertengger diatas rating-rantingnya.
Aku duduk dan bersantai ditempat duduk yang sengaja dibangun mengelilingi pohon itu. Dapat kurasakan rindangnya meneduhkan hati. Daunnya menciptakan semilir angin pembawa damai, semua masalahku seakan terbang bersama angin yang membelai helaian rambutku. Ditemani kicauan burung mnan merdu, aku semakin terbawa oleh arus relaksasi yang teramat sangat. Sangking kelewat santainya aku sampai lupa waktu, bel masuk sudah berbunyi sejak 15 menit lalu.
Sejak itu aku seperti kecanduan dengan kesejukkan di bawah pohon beringin itu. Keesokan harinya saat jam istirahat aku datang lagi, kali ini kumanfaakan untuk belajar atau sekedar membaca buku pelajaran. Tiba-tiba samar terdengar suara langkah kaki menginjak dedaunan kering. Hatiku muali resah, bulu kudukku sentak berdiri. “ hee!! Siapa kamu!!!! ” dengan nada kasar. Serentak aku berdiri dan kubalikkan badanku. Nada jantungku tak beraturan, “ Dak, Dik, Dukk (?-_-) ”. Mulai kulihat dari bawah kakinya menapak dan ku angka kepalaku mulai kulihat wajahnya.
“ HUHH. . .”, aku menghela nafas,
“ ternyata hanya seorang cowok “, kataku berbisik dalam hati, tapi aneh tatapannya tajam dan dingin bibirnya juga kering dan sedikit pucat, merinding aku melihatnya.
“ kamu ngapain disini? “ katanya kembali.
“ kamu sendiri ngapain kesini? “ aku balik bertanya.
“ aku kann setiap hari juga disini ”  jawabnya, sekarang nadanya berangsur lembut.
“ disini??? di..dii manaa? kok aku nggak pernah liat kamuu?? “ tanyaku penasaran.
“ dibelakang kamu “,  jawabnya kembali.
“ dibelakangku ?? tapi dibelakangkan pohon ? “,  parnoo aku jadinya, jangann...
“ ha ha haaa....kamu ketakutan gitu, kenapa? Maksud aku kan di balik pohon yang ada dibelakang kamu (!-_-) “,  jelasnya sambil menertawakan keparnoanku.
“ Oh ya, ngomong-ngomong, emangnya kamu nggak takut apa, disini ? sendiri?” lanjutnya.
“ awalnya sih takut !! tapi penasaran juga, dan ternyata ketakutanku itu hanya ada di hati dan prasangka kita aja. Dan setelah itu aku buktikan sendiri ternyata nggak seperti yang aku kira, disini sangat sejuk, rindang, dan enak untuk ngeRefresh pikiran ditengah pelajaran yang sumpek.”
“ kamu bener banget,  disini tempat terbaik untuk menenangkan diri. Oh yaa, aku Reza. Nama kamu siapaa? “
“ aku Narin, Oh ya kamu biasanya ngapain aja disini ?”
“ nyantaii aja.. “
“ kamu, nggak kesepian apa ? biasanya kann kebanyakan cowok suka ngumpul-ngumpul bareng temen “
“ nggak juga, disini kan udah ada burung-burung yang nangkring di atas yang nemenin aku disini. apalagi sekarang kann udah ada kamu, jadi nggak kesepian lagi “
“ gitu ? kita baru kenal Lhoo!! Kamu langsung akrab aja sama aku ? “
“ nggak tau sihh, sebenarnya aku juga nggak pernah seakarap ini sama orang, apalagi yang baru aku kenal, emangnya kenapa ? “
“ nggak apa-apa sih, Oh ya, kamu kelas apa ? kalo aku kelas XI IPA I “
“ aku kelas XI Bahasa I “
“ kok aku nggak pernah liat kamu sihh ? “
“ ya, akrna aku tiap istirahat ada disini, lagian aku nggak begitu akrab sama temen-temen di kelas “
“ kenapa...?
“ karena aku nggakk......, ahhh udah lahh ! udahh bel tuh ! ? “
“ oh ya, aku masuk kelas ya ! “ sambil berjalan yang ada dibenakku, kenapa cowok itu aneh banget, pasti ada sesuatu. Tapi udahlahh bukah urusanku juga.
***
Setelah  pertemuan itu setiap hari saat jam istirahat kami pasti bertemu dibawah pohon raksasa itu. Ternyata dia adalah teman bicara yang sangat menyenangkan. Bahkan dia sering bantu mengajariku buat puisi. ya...secara kau paling nggak bisa kalo disuruh puitis-puitis kaya gitu. 

Tepatnya Kamis 16 April 2010 masih seperti biasanya. Setelah terdengar bel istirahat aku bergegas menuju pohon itu. Tapi ada yang aneh dengan Reza hari ini, wajahnya terlihat pucat dan agak pendiam dari biasanya.
“ za kamu sakit ?” tanyaku.
“ nggak, aku nggak apa-apa ! “, elaknya.
“ beneran, tapi kamu pucat kayak gitu? “
“ mungkin aku cuma kecapean aja “
“ Oh ya za, kamu tau nggak arti majas ini? ”
“ emm...mana, coba aku liat ! ”
“ astaga za, kamu mimisan ? ”
“ apa....astaga !! ” Reza bergegas lari menuju kamar mandi. Aku pun mulai panik dan mengejarnya.
“ Za , kamu nggak napa-napa kann ? ”, sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi. Khawatir bercampur malu rasanya ada didepan kamar mandi cowok. Tapi rasa khawatir sudah tak bisa ku bendung lagi.
“ Za ... ? “ ku coba memanggilnya lagi.
“ aku udah nggak apa-apa kog rin. Udah masuk nih, kamu duluan aja ke kelas ! ”
“ ttapii za.. ”
“ udah kamu pergi aja duluan ”
“ tapi kan za...kamu... ? ”
“ aku bilang !! kamu pergi sekarang !! dengan nada membentak ”
“ reza... ?? ”
“ rin, please kamu pergi...aku nggak mau kamu liat aku kaya gini ”, sekarang dengan nada memohon.
“ baiklah aku pergi sekarang, tapi kalo kamu emang sakit jangan maksasain diri. Ke UKS aja. Aku pergi yaa...”, akupun pergi meninggalkan Reza.
           
Seharian sejak pulang sekolah aku menunggu kabar dari Reza, tapi tak satupun SMS atau sekedar Missed call dari Reza di Hpku. Bahkan saat aku SMS, dia tak membalasnya. Aku coba SMS lagi dan lagi. Hingga puluhan kali ku kirim SMS dan telepon tetap saja tak ada jawaban.
“ apa sakitnya terlalu parah ?” bisikku di hati. Ingin rasanya aku menjenguk kerumahnya. Tapi ayah pasti nggak mengijinkan, karena sudah malam. Selain itu berbagai macam alasan ayah lontarkan dari bibirnya untuk mencegahku pergi malam. Aku jadi teringat saat aku pulang terlambat, karena ada acara ekskul. Saat aku pulang ± jam 6.45 sore atau 18.45, ayah begitu marah dan mengintrogasiku saat itu pula.
“ rin dari mana aja kamu !! kenapa jam segini baru pulang ?? ! kenapa kamu ngga pamit kalau mau pulang jam segini !” kata ayah dengan sangata marah.
“ sebenarnya yah, aku tadi ada acara ekskul di sekolah. Kenapa aku nggak pamit, karena acaranya dadakan ayahh ”, jelasku. Tapi kuakui walaupun ayahku sangat galak dan pemarah. Itu sebenarnya karena dia sangat sayang dengan anak-anaknya. Walaupun ia marah-marah, tapi setelah itu pasti ia minta maaf dan memberiku penjelasan.
“ huhhh...Rin maafin ayah yaa ?? Ayah nggak bermaksud memarahi kamu. Ayah hanya khawatir sama kamu. Kamu maukan maafin ayah ?? ”
“ ya Rin, maafin ayah kamu, dia tuhh terlalu sayang sama kamu ? ” bujuk ibu.
“ ya dehh Narin maafin, tapi jangan terlalu khawatir yaa. Narin janji, bakal ijin dulu kalo mau pergi..” aku jadi pengen tertawa sendiri kalo inget kejadian itu. Abis lucu sihh, ayah kalo sedang khawatir pasti dan selau salah tingkah. “heheh..he”, ahh udahlahh percuma juga kalo aku mohon sama ayah, pasti nggak dibolehin. Tidur aja deh kalo gitu.
Keesokan harinya saat istirahat aku bergegas ketempat aku dan Reza sering bertemu. Semoga Reza sehat-sehat aja. Aku berjalan mengitari beringin itu, tapi nggak ada siapapun disini. “ tapi tunggu ! kertas apa ini ?? “ kataku dalam hati. Heran dan aneh rasanya karena kan jarang yang kesini. Hanya ada kemungkinan. Aku, Pak Karno ( Tukang Bersih-bersih ) atau Reza. Aku tak mungkin. Masa pak karno bawa kertas yang warna pink? Kecuali kalau Pak Karno sedang kasmaran, secara dia kan Perjaka tua, hehehee...atu Reza, tapi disini nggak ada Reza, atau mungkin kemarin ketinggalan. “ ah daripada penasaran, dibuka aja “, kataku dalam hati. “ apa ini?? Puisi?? ”, aku yakin tulisan tangan ini pasti Reza, dia masih bisa buat puisi pasti dia baik-baik saja. Tapi kalo Reza nggak masuk, siapa yang ngirim ini kesini ? atau Reza masuk, tapi lagi sibuk ! mungkin bisa diajak. Semoga itu yang terjadi.
Tiba-tiba “ Rin, kok kamu ada disini sihh ? ”. “ Dewi, bikin kaget aja sihh ”, kataku.
“ emang kamu nggak takut Rin ??” sambil clingak-clinguk dan wajahnya yang pucat ketakutan.
“ takut ? ngapain takut ? oh ya ada apa sihh?”
“ tuhh dicari Bu Anis ?”
“ astaga aku hampir aja lupa, titipan Bu Anis”.
“ yahhh...kumat dehh penyakit lamanya !”
“ yaa-yaaa aku tau, ya udah yuk cari Bu Anis ”
“ oh ya Rin...apa itu?? Ditangan kamu?? Pink..pink gitu, kaya’ surat cinta aja, cie cei narin ” tanya Dewi sambil jalan.
“ bukan kokk ! Cuma puisi !!”
“dari siapa, so sweat banget sihh ??” “
“ ya dari siapa lagi kalo bukan Reza !, etsss jangan berfikir macem-macem kita cuma sahabatan”
“ iyaa-iyaa sahabat, sahabat selalu lengket”
“ apaan sihh, seneng banget deh kalo nggoda orang”
“ hahaha..haha” tertawanya saja terdengar jahil.
“ Bu Anis ! ini titipan ibu. Oh ya buu, salam dari ibu saya !”
“ sampaikan juga salam ibu untuk ibumu. Terima kasih”
“ sama-sama bu” “
                                                                                                                  
Seminggu berlalu begitu cepat, Reza tak pernah menghubungiku, dia hanya memberikan sajak puisi yang sulit kumengerti maksudnya.
“ Reza......................! “ seruku sambil berlari menghampirinya.”  za akhirnya...?!!! ?
“ Narin... !” Reza
“ gimana keadaan mu ?” tanyaku.
“ aku baik, maaf yaa.. !”
“ kenapa minta maaf ??”
“ karena selama seminggu ini....”
“ ohh.. nggak pa-pa kok, aku tau kalo kamu pasti sibuk...”
“ iyaa aku sibuk, makasih yaa kamu udah ngertiin aku,”
“ it’s okeyy”
“ oh ya aku kesini soalnya aku mau bilang sesuatu sama kamu....!!”
“ bilang ajaa..!!”
“ mulai besok kaya’nya kita nggak bisa ketemuan lagi...soalnya aku banyak banget tugas yang numpuk dan mesti aku selesaiin, nggak apa-apa kann kalo kita jarang ketemu.”
“ ya nggak apa-apa lahh, emang kamu kira aku ini siapa?? Nggak usah sungkan gitu lahh”
“ tapi tenang aja seperti biasa kalo aku nggak kesini ada sesuatu yang akan nemenin kamu.”
“ iya aku tau ini kann ” sambil ku tunjukkan salah satu puisi dari Reza.
“ tapi kaya’nya kamu udah terbiasa tanpa aku..”
“ maksud kamuuuu...? ”
“ nggak . . aku seneng aja”
“ seneng! Kamu seneng, nggak bisa ketemu aku lagi!”
“ gimana yaaa! Abiss kadang-kadang kalo terlanjur kumat, kamu cerewet banget sihhh!”
“ za....kamu kok gitu sihh !! jahat tau..”
“ hahah...haahaa ” ketawa dengan riangnya.
“ kok kamu ketawa sihh?”
“ abiss, liat ekspresi kamu lucu bangett,....hahaha..”
“ hahaaa...hahah ketawa aja teruss...!!!”
“ haa.haa.haa...iyaa..iyaa maaf!”
“ tapi beneran aku seneng dehh, bisa liat kmau ketawa lepas gini”
“ kalo gitu aku akan selalu bahagia untuk kamuu!!”
“ tapi za beneran dehh, aku nggak taau maksud puisi kamu. Kamu bisa nggak buatin aku kamus majas !”
 “ kamu kira puisi itu bahasa inggris ! Noonn puisi itu nggak perlu kamus, karna kamusnya udah ada dalam diri kita!”
“maksud kamuu ?”
“ kamu cuma perlu merasakan dengan hati kamu!! Hayati puisi itu, kamu akan tau maksud aku”
“ ha..”
“ ya pokoknya gitu lahh. Aku harus masuk kelas nihh”
“ Za.. kamu jaga kesehatan kamu yaa, jangan maksain diri sama pelajaran.”
“ iya dehh ibu dokter!”          
“ mulai kan...! aku serius nihh! “
“ haha.. aku juga serius, itu cita-cita kamu kan? Lagian nasehat kamu dah kaya’ dokter tau gak sih!! Haha.ha”
“ udah ah, ngobrol muluu! Katanya masih banyak tugas! Pergi sanaa! ”
“ kamu ngusir aku ! nanti nyesel loo! Jangan nyari aku lagi yaa ”. “ nggak..nggak akann ! :P ”
“ ya dehh..bye”
“ ati-ati ”
“ bye Rin! ”
“ iya ”
“ Rin..! ”
“ apa lagi? ”
“ emm bye Rin!”
“” ihh, udah ahh..bye juga!”
“ Rin...”
“ heemm.”
“ .. ” hanya tersenyum sumbang.
Sejak hari itu aku dan Reza tidak pernah bertemu lagi. Yang ada hanya puisi-puisi dari Reza dan aku yang berusaha memahaminya. Huhh..lebih mudah soal matematika daripada memahami isi hati lewat puisi. “ aku jadi penasaran ngapain aja sih Reza, katanya sibuk, tapi masih sempat buat puisi ” kataku dalam hati. Aku pun menunggu Reza di depan kelasnya. 1..2..3 anak keluar, hingga kelas kosong. Tapi kemana Reza?. Akupun memasuki kelas. Tak ada seorang pun di kelas. Terlihat sekilas ada nama Reza, kuperhatikan dengan benar-benar kali ini. “ Reza Surya Saputra ” itu nama Reza tertulis di papan jurnal kelas keterangan sakit. “ ha..sakit, tapi sakit apa? Kenapa dia nggak ngabarin aku? ”. “ ah sudahlahh lebih baik aku jenguk dia di rumahnya ”.
Setelah sampai di depan rumahnya tanpa ragu ku ketuk pintu rumahnya. Berkali-kali ku ketuk tak ada yang membukakan pintu. Dan saat ku ucapkan salam, tak ada yang jawab. Bahkan sepertinya rumah ini kosong. Tetangga Reza yang mendengar teriakan salamku keluar dari rumahnya.
“ nyari siapa dek? ” kata perempuan itu.
“ mbak tahu pemilik rumah ini? ”
“ oh, keluarga Pak Rahmad ? ”
“ iya ”
“ Pak Rahmad dan istrinya sedang di rumah sakit menjaga mas Reza ”
“ lho memangnya Reza sakit apa mbak? ”
“ kabarnya mas Reza itu sakit Leu...Leu..apa ya? ”
“ Leukimia... maksud mbak!! ”
“ nah ! iya Leukimia  ! ”
“ kalo boleh tau di rumah sakit mana mbak? ”
“ di Rumah Sakit Nusantara kamar VIP. Sebentar ya mbak saya lagi masak! ” sambil berbalik meninggalkanku.                            
***
Saat di rumah sakit kulihat Reza terkapar di ranjang. Tak seperti Reza yang biasanya, Reza yang periang dan selalu menghiburku. Reza yang sekarang tampak rapuh, wajahnya pucat, walau begitu tersimpan ketabahan yang luar biasa di dalam hatinya.
“ Narin..apa itu kamu? ”
“ ya..” sambil membuka pintu.
“ kenapa kamu nyari aku, aku kan udah ngelarang kamu nyari aku! ”
“ tapi aku khawatir sama kamu? ”
“ kamu nggak percaya sama aku! Aku udah bilangkan selama aku ngirim puisi itu brarti aku nggak apa-apa atau kamu nggak nerima puisi itu? ”
“ tapi za...”
“ sudahlah itu nggak penting lagi, sekarang kamu tahukan ini sebabnya aku nggak mau terlalu akrab sama temen-temen. Aku terlalu sedih nantinya kalau aku...!”
“ kamu nggak akan mati kan...? ”
“ matt..matii? maksud aku, kalau aku lagi terkapar kaya’ gini ”
“ dalam keadaan kaya’ gini kamu masih aja bisa bercanda ya? ”
“ aku gk lagi bercanda!  ”
“ oke, aku ngerti maksud kamu. Setidaknya berbagi lah rasa sakitmu itu, jangan dirasakan sendiri. Mungkin itu bisa mengurangi rasa sakitmu. Setidaknya ada semangat dari teman-teman ."
" kamu tidak akan mengerti , mungkin saranmu itu baik. Tapi aku lebih nyaman seperti ini. Kamu akan mengerti setelah memahami dan mengerti isi dari puisi-puisiku. "
" kalau memang itu yang terbaik, aku akan coba lakuin itu. mengeti setiap sajak puisimu. Tapi kamu harus mengerti satu hal, bahwa ada seseorang yang akan menunggumu, mendoakanmu, dan mengerti kamu. Semangat za !! "
~ don't cry narin, semangat semangat. doamu pasti sangat berarti untuk Reza. harapku, semoga dia cepat sembuh. Tuhan, hanya doa yang bisa kupinta dari-Mu.~
Aku pun dengan segudang rasa khawatir yang menyelimuti hatiku. Ku coba untuk selalu berfikir positif dan terus melangkah kakiku. Selangkah demi selangkah aku menjauh dari kamarnya.
***
Hari demi hari ku jalani, tanpa Reza disampingku. Tapi entah kenapa tetap terasa Reza hadir di sampingku. Karena kata-kata puitisnya, tersampaikan ke hatiku lewat goresan-goresan tinta biru melekat pada selembar kertas merah muda. Kadang aku tersenyum tersipu layaknya seorang gadis yang kasmaran karna sajaknya. Tapi terkadang aku menangis terharu karna kata-katanya yang menyentuh. Sajak yang seakan dapat menghipnotis seapapun yang membacanya, laruut bahkan tenggelam dalam suasana yang dibawahnya. Aku sadar sehebat dan seindah apapun suasana yang dibawa oleh puisinya, tak akan dapat menggantikan Reza. Tapi aku selalu berharap Reza akan kembali bersamaku, bersama kami semua balajar dan tertawa bersama.
Ayam telah menyanyikan lagu wajibnya. Aku terbangun dari tidur lelapku. Sedikit rasa aneh kurasakan, panas dan dingin bercampur di sekujur tubuhku. Setiap nafasku terasa panas telapak kakiku terasa dingin membeku. Begitu pula dengan kepalaku, entah kenapa perasaan gelisah yang ada dipikirankuu saat ini. 
" Narin bangun.. " bunda udah mulai teriak
" Ia ini sudah bangun bun . " brr brr.. dinginnyaa. padahal udah mandi pake air anget lho.
" bun kenapa ini aku, kog gk enak banget rasanya dari tadi. coba pinjem termometernya bun. "
" ya ampun, demam ya kamu nak. ini kog demamnya lebih dari 39 derajat. .."
" aku harus masuk bun, ada ulangan nanti di sekolah."
" ya udah, minum obat penurun demam dulu ini. mau gimana lagi, bunda antar ya. "
" iya bun. " kalau gk emergency, pasti bunda gk mau ngantar. biasanya , pasti udah berangkat kerja duluan. emang sihh , ke sekolahku sama ke kantor bunda gk searah. itu alasannya dia gk mau antar. tapi kali ini dia gk tega liat aku. tapi emang, rasanya lemes banget. tapi harus semangat, ada my favorite exam. yeahh , because it's mathematics. my lovely math .. muach muachhh ^^.
***  finally , selesai juga. huhhhh sukses lah buat hari ini.  *** 
brukkk .. "narin bangun, narin kenapa kamu.. narin bangunn.. narin.. cepat bawa dia ke UKS "
" dimana aku ?? " tanyaku
" kamu di UKS ." si petugas UKS. si pak kumis 
" kenapa pak saya?? kog tiba-tiba disini ?? "
" kamu udah 1 jam pingsan, badan kamu deman ya nak. bapak antar ke rumah sakit ya. demamnya tinggi lho. "
" saya mau pulang aja pak. . "
" ya sudah kalau begitu. "
tidak lama kemudian, bunda datang.  Eh pak kumis cerita kalau aku habis pingsan sejam. langsung ke rumah sakit deh. huhh capekk plus puyeng rasanya.
bla bla blaa dokter bilang, aku kena tipes ternyata. syukur, masih bisa diobati.
baru sadar kalau rumah sakit yang aku datangi sama bunda, sama dengan rumah sakitnya Reza. ~stupid, baru sadar akuu~ 
ke Reza ah... 
tik tok tik tok, lima langkah lagi aku sampai nih. Satu ... dua..... tiga... empat... lima... lahhh
lho laahh kog kosong ya. Kog udah rapi tempat tidurnya. 


-To be continue-

3 komentar:

  1. kok bersambungnya ditengah2? gak sampe titik n ada kata2 "Bersambung"-nya gitu sis? tapi ini bagus kok. dipoles aja sis, trz dlanjutin ya. hehe... kayakx reza tu hantu deh :p
    kunjungan balik ya sis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. thanks bgt ya sist bwt comment nya..iya ceritanya nanti ak sambung lg..
      dan jg ak oles lebih halus lg ceritanya..
      reza nya bkn hantu :D..
      Okeh sist thanks skali lg..

      Hapus